Kemana Airku…

air-terjunLebaran kemarin 1429 H terasa sangat berbeda buat saya,

Selain karena merupakan Lebaran pertama tanpa Bapa saya yang sangat saya cintai, juga merupakan kali pertama istri saya ber-Lebaran dikampung halaman.

Oh iya, mengenai bapa saya, beliau meninggal pada bulan Maret 2008 yang lalu. Bagi keluarga kami, beliau merupakan sosok yang menjadi teladan. Yang membuat kami sangat sedih adalah kami kehilangan seseorang yang menjadi sandaran dan tempat berkeluh kesah. Bapa saya sangat rajin sholat malam, sehingga alhamdulillah doa-2 beliau banyak yang didengar dan dikabulkan oleh Alloh SWT, selebihnya insya alloh ditunda dan diganti.🙂

Kembali ke soal Lebaran, Hari raya Idul Fitri kemarin jatuh pada musim kemarau yang lumayan lama. Di TV, kelangkaan air terjadi dimana-mana, banyak petani yang ga bisa bercocok tanam karena tidak ada air. Banyak masyarakat yang harus menempuh jarak yang jauh hanya untuk mendapatkan air bersih untuk minum dan memasak. Hal itu juga terjadi dikampung saya, walaupun tidak separah seperti diceritakan di TV dan media cetak.

Ada satu kejadian yang membuat saya sangat sedih dimana saya dan istri saya harus ke pom bensin untuk mandi pada saat hari Raya Idul Fitri kemarin. Pompa air yang biasanya berjalan normal, pada hari itu mendadak ngadat. Listrik PLN 2 paket ( 900 Watt ) digunakan oleh 15 Rumah membuat pompa air kami tidak sanggup menyedot dan mendorong air kerumah saya yang kebetulan berada di punggung bukit.

Dulu, pada saat saya kecil, air sangat melimpah. Air yang keluar dari banyak sumber air, mengalir dikali dengan sangat jernih. Kolam dan sawah tidak pernah kering karena kekurangan air. Ada satu kampung bernama ” Cikancah” yang tidak pernah kekurangan air. Disana, hampir semua orang punya kolam. Air yang melimpah membuat hektaran sawah, ratusan kolam dan beberapa pengolah batang aren yang kami sebut Kawung untuk dibuat tepung tapioka terolah dengan baik. Tapi itu semua telah berlalu. Pengetahuan masyarakat mengenai tanaman industri seperti Sengon atau Albasia membuat pohon-pohon bambu sebagai penampung air hujan ditebang tanpa perhitungan dan diganti dengan pohon sengon. Akibatnya 2 tahun belakangan ini, kali yang dulu tidak pernah kering, menjadi kering. Sawah-sawah yang dulu tidak melulu mengandalkan air hujan, dengan terpaksa hanya digarap pada musim hujan. Akibatnya, masyarakat yang dulu tidak pernah membeli beras karena sawah-sawah mereka digarap dengan baik karena ketersediaan air, kini hanya bisa digarap satu kali setahun yaitu pada musim hujan yang kini juga menjadi tambah singkat.  Banyak sekali impect dari ketidak tersediaan air yang merugikan masyarakat yang sebenarnya merupakan buah ketidaktahuan mereka terhadap fungsi hutan dan pohon-2 penahan erosi dan penampung air. PR besar Pemerintah, pemuda-pemuda dan masyarakat yang mengerti tentang hutan untuk menyadarkan masyarakat atas ketidak tahuan tersebut. Bukan sesuatu yang ringan tentunya…😦

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Begitu kata pepatah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s