Kartini dan Pahlawan Masa Kini

pahlawanHari Kartini setiap tanggal 21 April diperingati dengan cara beragam oleh setiap kalangan. Anak-anak sekolah mulai dari TK, SD sampai SMA biasanya mengadakan upacara bendera pada hari itu diikuti oleh acara-acara lainnya dengan menggunakan pakaian adat masing-masing daerah. Ada yang berkebaya seperti adat jawa, sunda, batak, dan lain-lain. Sayang, acara tersebut tidak diperingati disetiap instansi. Yang mengherankan, justru pada perusahaan – perusahaan asing seperti HSBC dan Unilever yang dengan serius memperingati hari Kartini yang kemudian dilanjutkan dengan peragaan busana adat dan lain-2. Perusahaan-perusahaan dalam negeri justru seperti lupa akan hari Kartini. Walau begitu, mudah-mudahan makna dari hari Kartini itu sendiri tidak terlupakan yaitu Emansipasi dan bukan emansipasi yang kebablasan. Perjuangan Kartini memang membuka mata semua orang bahwa Wanita bukan bertugas didapur saja. Mereka juga bisa berkarya sepertinya halnya laki-laki diluar rumah.

Pahlawan lain yang kadang kita aga lupa adalah guru. Pahlawan tanpa tanda jasa begitu julukannya. Guru sangat berperan dalam hal keikutsertaanya mencerdaskan bangsa. Walau saat ini sepertinya julukan pahlawan tanpa tanda jasa sudah tidak cocok lagi. Guru dibayar sangat mahal belakangan ini.

Masih banyak pahlawan yang mungkin kita tidak sadar bahwa dia seorang atau berjiwa pahlawan. Misalnya Ibu Yitno yang saya temui di Semarang. Dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anaknya. Untuk membantu suaminya yang hanya tukang becak, dia berjualan air yang dia tempatkan pada kaleng ( blik ) untuk kemudian dia jual kepada pedagang-pedagang makanan dipinggir-pinggir jalan seperti penjual pecel lele, nasi kucing, pecel dan lain-lain. Air tersebut dia jual dengan harga Rp. 1000,- perkalengnya. Sementara Bu Yitno membeli seharga Rp. 200,- setiap kalengnya dari pemilik sumur. Dalam sekali angkut, bu Yitno membawa 10 kaleng air. Tapi untuk menjual itu, Bu Yitno harus menempuh jarak sekitar 1.5 KM.  Jadi kalo pulang pergi Bu Yitno harus menempuh jarak 3 kilometer. Dalam sehari bu Yitno bisa mengantar air kepada pelanggan-pelanggannya sebanyak 7 kali. Jadi dalam sehari Bu Yitno harus menempuh jarak sejauh 21 Km untuk mendapatkan Rp 56.000,-. Sungguh perjuangan yang sangat berat. Walau begitu bu Yitno menjalani itu dengan sabar dan tekun. Keinginan untuk menyekolahkan anaknya lah yang membuat dia dengan sabar menjalani profesi ini. Bu Yitno berkeinginan supaya anak-anaknya nanti bisa hidup lebih baik dan menjadi orang yang sukses. Suatu cita-cita yang sangat luhur.

Memang, kasih ibu sepanjang jalan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s