Aku Ingin Menghijaukan Kampungku Kembali

kutaTanggal 20 September kemarin, alhamdulillah saya bisa pulang mudik Lebaran dengan aman dan lancar. Jalanan yang diberitakan macet pada H-1 Lebaran tidak terjadi pada hari H-nya ( Minggu malam ). Lancar banget malah. Jakarta – Banjar Patroman bisa kami tempuh selama 4 jam ( dengan mobil pribadi siiih ). Itu juga menjadi rekor tercepat saya dengan rute yang sama.

Setelah sholat Subuh, istirahat secukupnya dan sarapan pagi, saya dan keluarga kemudian ber-siraturahim ke tempat Ua ( Pak Dhe ), saudara-2 dan terakhir berkumpul ditempat Ema ( nenek ) untuk makan bersama. Suatu kebiasaan keluarga yang sangat membahagiakan dan sampai saat ini tetap kami laksanakan. By the way, ini adalah Lebaran ke-2 tanpa kehadiran bapak saya. Sedih juga rasanya…😦.

Setelah wara-wiri Siraturohim, ada satu hal yang membuat saya merasa miris dengan Kampung ini ( Cikancah, Cimanggeng I, Panulisan Barat ). Akankah orang-2 dikampung ini bisa bertahan..? dimana pada saat kemarau, sumber mata air makin langka, udara terasa sangat kering, dan daun-2 pisang mengering dipohonnya. Bahkan untuk mandi saja banyak orang yang harus menempuh jarak yang lumayan. Bagaimana dengan rumah sehat ? dimana orang-2 menjadi biasa mencuci tangan setelah bepergian atau akan makan, dimana mereka bisa sikat gigi setelah makan atau sebelum tidur. Sepertinya jauh dari kenyataan. Diperlukan penyuluhan secera teratur oleh pemerintah kepada masyarakat dan perangkat desa untuk menumbuhkan kesadaran mengenai hidup sehat.

Keadaan tersebut diatas berbeda jauh dengan keadaan 10 tahun silam. Dimana sumber mata air dimana-2. Orang-2 cukup berjalan beberapa meter untuk mencapai sumber mata air yang ditampung seperti kolam kecil dan dipagari bambu sehingga orang bisa mandi, mencuci dan lain-2. Selokan-2 selalu dialiri air dengan berbagai jenis ikan didalamnya. Sungguh sesuatu yang sangat menyenangkan.

Yang dibutuhkan kampung ini menurut saya adalah Penghijauan. Dibutuhkan ribuan batang pohon untuk menjaga sumber mata air yang nota bene adalah sumber kehidupan masyarakat. Selain itu dengan penghijauan Insya Alloh akan mencegah kampung ini dari bahaya Longsor, juga dalam rangka ikut mengurangi dampak pemanasan Global.

Dibutuhkan ribuan batang pohon untuk kembali menghijaukan Desa ini yang akan ditanam disepanjang sungai ( sumber mata air ), bukit-bukit yang menjadi icon Desa ini yang mudah longsor dan jalan-jalan desa. Selain itu, hal lain yang sangat penting adalah komitmen dari masyarakat dan aparat pemerintah untuk menjaga dan melestarikan pohon tersebut misalnya dengan memberikan sanksi dari pemerintah terhadap siapapun yang menebang pohon tersebut tanpa alasan yang jelas.

Please help me…

Rencananya saya akan mengumpulkan dana dari putra-putra daerah yang bekerja di Jakarta atau kota lain untuk menyumbangkan sebagian rezekinya untuk membeli pohon-pohon mahoni untuk ditanam. Kalo memungkinkan penanaman kembali ini dibuka oleh Bupati Cilacap dan diliput media masa. Sehingga kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan kembali tergugah.

Mudah-mudahan terlaksana. amiiin. doain ya… juga sumbangan dananya..πŸ™‚

5 responses to “Aku Ingin Menghijaukan Kampungku Kembali

  1. Bagus tulisana Lur.. real pisan, sok atuh d realisasikan…tp paling nyumbang tangkal albi nu murah dan terjangkau hehe. Ngomong2 ieu foto d mana? d Cijolang ato d mana?

  2. kekeringan dan banjir adalah saudara kembar, selama kita rajin membuat resapan air, banjir bisa di atasi dan saat kemarau air dalam tanah masih bisa kita manfaatkan, di rumah saya banyumas selatan, tepatnya di sidamulya, buntu, hampir 90% air hujan di sekitar rumah saya, saya resapkan kedalam tanah, dengan membuar sumur resapan, saat kemarau air tanah masih ada dan tumbuhan di sekitar resapan air juga tumbuh dengan subur dan hijaunya, mari kita buat sebanyak mungkin resapan air untuk menghujaukan lingkunang dan pengendalian banjir

  3. sama kyk kampung saya di Purwodadi, kec karang rayung, desa karangsono dusun karng asem…
    cita2 saya jg pengen meningkatkan taraf hidup masyarakat desa…
    klo bisa menjadi desa yang mandiri…

  4. aku sering pulang, cuma kalo ngliat perempatan buntu,kadang bingung nggak kaya dulu, memang maju sih tambah ruwet,lebih ngeri kalo liat kenndaraan yang lewat nggak aturan,aku di surabaya malah lebih,buntu rasa desanya ilang,kangen jaman udah berubah tambah gendeng..rumah ku dari perempatan buntu, ke barat 200 m, sebelum sungai kecil.ada rumah keramik merah, itu rumah sorgaku ( PAK HADI ) ya nanang itu aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s