Monas – Monumen Nasional

monas1Hari Jum’at 25 September 2009, Liburan Hari Raya Idul Fitri kemarin, kebetulan saya menghabiskan waktu liburan di Jakarta. Maklum Rozan putra kami belum bisa diajak jalan-jalan aga jauh. Kasihan masih kecil soalnya. Akhirnya nenek-nya yang ke Jakarta.

Setelah puas ketemu cucu pertamanya, kami akhirnya jalan-jalan keliling Jakarta. Kebetulan sepupu kecil saya juga ikut. Mau melihat Monas katanya. Akhirnya kami sampai di Monas setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari Pancoran Jakarta Selatan. Oh iya, mengingatkan saja, Kalo hari Sabtu dan Minggu, apalagi hari Libur kaya Idul Fitri, Jakarta tidak macet seperti hari kerja… lho.

Sampai di-Monas, dari tempat parkir menuju pintu masuk Gedung Utama Monas, panitia menyediakan angkutan berupa mobil yang sudah dimodifikasi menjadi kereta yang beroperasi mulai pukul 8:00 s/d 17:00. Tinggal mengantri di-Halte sederhana dan kemudian menunggu sebentar setelah itu berangkat menuju pintu loket masuk bangunan utama dengan “kereta” tersebut. Sangat bermanfaat, sehingga pengunjung tidak lagi berjalan kaki sepanjang 1 km dibawah terik matahari untuk mencapai pintu masuk gedung utama. Angkutan tersebut disediakan secara cuma-cuma.

Monas kini tampil lebih rapi, sejuk dan hijau, dengan taman berpagar yang mengelilinginya. Sayang, orang-orang yang tidak bertanggung jawab masih dengan seenaknya membuang sampah bungkus makanan atau botol minuman. Padahal pengelola sudah menyediakan tempat-tempat sampah di sekeliling area monas. Hal lain yang membuat Bangunan utama Monas kotor adalah “bandelnya” pedagang asongan yang masuk ke bangunan utama ( padahal dipagar lho, moga ga kong kalingkong dengan petugas masukšŸ™‚ ). Mereka menawarkan makanan kepada pengunjung monas. Makanan yang ditawarkan seperti POP Mie, tahu goreng, telur puyuh ( banyak yang busuk, merebusnya ga mateng kayanya ), kacang polong dan lain-lain. Sebenarnya, mereka aga membantu pengunjung yang lapar atau haus waktu mengantri untuk masuk ke menara Monas, untuk sekedar meringankannya. Tapi sayang mereka bertanggung jawab dengan bungkus makanan ataupun minuman yang mereka jual. Mungkin bila mereka ikut merasa memiliki Monas ini misal dengan membantu petugas kebersihan memunguti sampah dari bungkus makanan atau minuman yang mereka jual, sikap petugas bisa lebih lunak waktu mengusir mereka. Walaupun saya pribadi, lebih memilih tidak ada pedagang asongan disana.

Setelah naik kereta sekitar 5 menit, kami sampai di pintu masuk Monas. Untuk masuk ke Monas kita harus membeli ticketĀ  ( kalo ngga salah ) Rp. 3000 untuk dewasa dan Rp. 1500 untuk anak-anak ( pelajar ). Sudah termasuk asuransi jiwa. Untuk mencapai locket ticket, kita harus turun kebawah melalui tangga sekitar 3 meter ( ikuti petunjuk dilokasi ) dan melalui lorong sejauh 300 meteran. Lorongnya juga sudah nyaman, dengan lampu dan AC.

Tugu Monas sendiri dibangun tahun 1960 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dan diresmikan tanggal 17 Agustus 1961. Bangunan berbentuk Lingga Yoni dan setinggi 132 meter ini semuanya terbuat dari marmer.

Untuk memasuki bangunan Monas, anda harus naik ke Landasan Monas. Area yang menjadi tujuan wisata adalah :

  1. Musium Sejarah Perjuangan Indonesia, terletak di dasar Monas. Luas ruangan 80 m x 80 m. Informasi sejarah disajikan dalan bentuk diorama. Ada 48 diorama yang terdapat di ke-4 sisi ruangan ( masing-masing sisi ada 12 diorama ). Diorama-diorama tersebut menggambarkan bagaimana sejarah indonesia mulai jaman Majapahit sampai perang kemerdekaan.
  2. Ruang kemerdekaan, berbentuk amphitheater,terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan RI. Rekaman suara Presiden Soekarno diputar setiap pukul 16:00 diruangan ini setiah harinya.
  3. Pelataran Cawan, terletak dilantai 2, Untuk mencapainya kita harus menaiki tangga yang memutar. Dari tempat ini kita bisa melihat Masjid Istoqlal, Stasiun Gambir dan sekeliling Monas dengan jelas.
  4. Pelataran Puncak, untuk mencapai tempat ini, kita harus menaiki lift. Harga ticket untuk bisa naik ke atas Rp. 7500 untuk dewasa dan Rp. 3500 untuk anak-anak / pelajar. Loket ticket pelataran puncak akan tutup tepat pukul 15:00 setiap harinya. Pada hari lubur, kita harus mengantri yang lumayan lamaĀ  untuk bisa naik dan dan menikmati pemandangan Jakarta selama 1,5 menit. Ironis ya… ngantrinya bisa 2 jam hanya untuk naik ke atas selama 1,5 menit.šŸ™‚

monas2

Setelah puas jalan-jalan, akhirnya kami pulang. Tak lupa membeli kaos dan souvenir kenang-kenangan dari Monas salah satu icon negara ini.

Waktu keluar, ternyata ditaman-taman monas malah lebih ramai. Banyak orang datang setelah maghrib untuk sekedar bersantai dan makan dengan keluarganya. Selain tikar dan makanan, para pengunjung juga banyak yang membawa mainan untuk anak-anaknya.

Recommended untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan rasa nasionalisme anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s