Guruku Motivatorku

Pagi ini Rozan anak saya bangun pukul 07:00, setelah disusui, seperti hari-hari sebelumnya dia dijemur untuk mendapatkan vitamin D pukul 07:30. Pada waktu itu, matahari bersinar tidak begitu terik, tapi sudah cukup untuk menghangatkan kulit tubuh. Sambil menjaga bayi supaya tidak jatuh dari kursi tempat bayi saya di jemur, istri saya menyanyikan lagu “Pelangi”.

Pelangi – pelangi alangkah indahmu

Merah kuning hijau dilangit yang biru

( sambil menunjuk warna dari mainan Rozan sesuai lagunya )

Pelukismu agung siapa gerangan

Pelangi-pelangi ciptaan Alloh.

Begitu syair lagu sederhana yang biasa dinyanyikan anak-anak. Mendengar lagu itu, mengingatkan saya pada waktu masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ada dua lagu yang sangat melekat di pikiran saya. Yang pertama adalah Pelangi dengan lirik seperti diatas dan yang kedua berjudul Kasih Ibu. Insya Alloh liriknya seperti ini :

Kasih ibu

Kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi

Tak harap kembali

Bagai sang surya

Menyinari dunia

Lirik yang sangat simple tapi mempunyai makna yang sangat dalam. Lagu yang sampai sekarang saya masih belum tau siapa penciptanya, tetepi yang jelas, dia adalah orang yang sangat luar biasa ( setidaknya menurut saya ).

Pada umur 6 tahun saya sudah duduk dibangku SD. Tanpa masuk TK atau play group terlebih dahulu karena memang tidak ada.🙂 Begitu juga teman-teman saya yang lain yang berjumlah 13 orang pada saat kelas 1 dulu. Tapi Alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan untuk belajar membaca dan menulis. Ngga tau guru saya pada waktu itu. Mungkin beliau berusaha keras untuk mengajari kami menulis dan membaca.🙂🙂

Ada tiga orang guru yang benar-benar berkesan buat saya. Ibu Enah, Pak Damang dan Pak Sukirjo. 3 guru inilah yang selalu memnyemangati kami muridnya untuk terus belajar.

  1. Ibu Enah. Saya diajari oleh Ibu Enah pada saat duduk di kelas empat SD. Beliau orangnya ramah, telaten juga jujur dan adil. Beliau tak henti-henti menyemangati kami untuk terus belajar dengan cara meminjami kami banyak buku bacaan dan dengan menceritakan orang-orang yang selalu berhasil karena kerja keras mereka dan giat belajar. Alhamdulillah dengan beliau sebagai motivatorku saya bisa menjadi rangking 1 pada cawu 1 ( catur wulan 1 ) di kelas empat tersebut. Itu juga menjadi saat dimana saya menjadi rangking 1 pertama kalinya. Sejak kelas satu dulu saya paling banter meraih angking 2 atau 3. Pada kelas 1 sampai kelas 3 SD dikampung saya dulu, guru-guru masih sangat subjektif dalam menilai anak didiknya. Anak guru atau anak perangkat desa selalu mendapatkan rangking 1. Sayang bu Enah hanya mengajar di kelas 4 selama 4 bulan saja. Setelah itu, kami di ajar oleh Ibu Siti, guru dari kampong sebelah. Alhamdulillah saya kembali terlempar ke rengking 2 pada akhir CAWU 2 dan 3. Hal inilah yang menyimpulkan saya bahwa guru-guru kami di kampong masih sangat objektif dalam menilai murid-muridnya. Hal ini makin kelihatan pada saat SPM nanti, mereka yang biasa rengking 1 di SD terlempar jauh saat berkompetisi dengan muris-murid dari kampong, desa dan kecamatan lain. Tapi… aaah mudah-mudahan itu adalah prasangka saya aja.
  2. Pak Damang, adalah guru kelas lima dan kelas enam saya. Damang artinya Sehat dalam bahasa sunda. Mungkin pada waktu kecil beliau sering sakit-sakitan, sehingga orang tua beliau mengganti namanya menjadi Damang supaya sehat. Hal yang unik dari Pak Damang adalah gayanya yang sangat elegant dalam mengajar. Caranya berjalan, berkata dan dalam mengajar menunjukan kalo beliau sangat percaya diri. Masih sangat jelas diingatan kalo beliau sedang menulis didepan kelas dengan kapur tulis yang dibungkus dengan kertas atau plastic supaya kulit tangannya yang sangat sensitive tidak bersentuhan secara langsung dengan kapur. Beliau selalu menyemangati kami untuk terus belajar walau dengan segala keterbatasan. Dulu ditempat kami belum ada listrik. Sehingga kalau malam hanya lampu minyak tempel dengan cahaya yang seadanya sebagai teman kami pada saat belajar. Kalo gelas / beling pelindung apinya pecah misalnya karena kecipratan air dll, pagi harinya, lubang hidung kami akan berwarna hitam karena kena apap dari lampu minyak tersebut. Lampu minyak juga bisa dibuat dari kaleng susu yang diberi minyak kemudian diberi sumbu. Karena terangnya yang terbatas, mengakibatkan kami lebih cepat ngantuk pada sore hari. Untuk menambah waktu belajar tersebut, pak Damang menganjurkan kami untuk selalu menyempatkan belajar setelah pulang dari sekolah. Untuk merealisasikannya, pak Damang membentuk kelompok belajar. Kami akan belajar di sore hari dirumah salah seorang dari kami. Itu kami lakukan secara bergilir. Pak Damang sangat menginginkan salah satu dari kami untuk masuk SMA Taruna. Sayang tidak kesampaian. Oh iya, untuk memotivasi kami dalam belajar, pak Damang selalu memberikan pertanyaan kepada kami sebelum pulang sekolah. Siapa yang bisa menjawab pertanyaannya dengan benar dan cepat, dialah yang beliau ijinkan pulang terlebih dahulu. Alhamdulillah saya selalu pulang duluan karena bisa menjawab pertanyaan pak Damang. Pernah sekali saya pulang diurutan ke-2 karena salah menjawab pertanyaan. Waktu itu pertanyaanya adalah KPK 12 berapa..? saya sudah menjawab tapi jawabannya salah. Kemudian teman saya yang namanya Haeti menjawab KPK 12 = 6. Sehingga dia diijinkan untuk pulang duluan. Mulai CAWU 2 kelas 6 kegiatan kerja kelompok dan tanya jawab lebih diintensifkan. Pak Damang membelikan kami banyak buku kelas 6 dan soal-soal ebtanas tahun-tahun sebelumnya. Tanya jawab kami lakukan pagi hari ( sebelum pak Damang datang ) dan pada waktu bubar sekolah. Dengan kegigihan pak Damang akhirnya kelas kami menjadi reangking 1 sekecamatan dengan NEM paling tinggi 42,57 dan terendah 35.80. Alhamdulillah saya ada di urutan pertama dengan 42,57. 🙂 NEM tersebut menjadi nilai tertinggi sepanjang sejarah berdirinya sekolah kami. 3 tahun kemudian baru ade kelas saya kembali memecahkan rekaor dengan NEM 43,10. Hihihi jadi inget film “Laskar Pelangi”🙂
  3. Pak Sukirjo, adalah guru kelas 3 SMP saya. Pak Sukirjo yang kelahiran Bantul adalah orang yang keras dalam arti tegas. Dengan beliau kami selalu memenangkan berbagai lomba. Misalnya lomba kebersihan, lomba upacara dan lomba-lomba lain dalam olahraga pada saat Class meeting. Dalam bidang akademispun, kami juga bisa bersaing dengan kelas-kelas lain. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, beliau selalu mengecek apakah kami siswanya belajar waktu malam apa ngga. Beliau rela menempuh puluhan kilometer untuk mengecek apakah murid-muridnya yang dia anggap kurang dalam belajar dengan mengendarai motor Honda 100 miliknya. Sebagai ketua kelas, saya pernah diajak berkeliling ke dusun Peundeuy. Jarak dari SMP kami ke dusun tersebut sekitar 12 KM. Kebetulan disana sedang ada yang hajatan. Seperti Intel di Kepolisian kami mengecek siapa saja yang datang dan nonton ke hajatan tersebut untuk kemudian di-counseling esok harinya. Dan itu dilakukan beliau dengan rutin. Akhirnya dengan kegigihan beliau kami muridnya bisa lulus semua dengan nilai yang cukup untuk melanjutkan ke sekolah Negeri di Kabupaten kami. Sayang sejak lulus dari SMP saya belum sempat ketemu lagi dengan Pak Sukirjo. Khabar terakhir, beliau mengajar di kampong halamannya, seperti yang diinginkannya. Alhamdulillah saya sudah mendapatkan nomor teleponnya sekarang, sehingga saya bisa berkomunikasi dengan beliau. Matur nuwun sanget pak Kirjo…

Itulah guru-guru saya yang saya anggap paling berjasa atas apa yang saya dapat saat ini, tanpa mengecilkan peran guru-guru yang lain tentunya.

Sungguh mereka-mereka adalah Pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s