Catatan Perjuangan#SMP kelas 3

Tahun 1995/1996 saya duduk dibangku SMP kelas 3. Saat itu masih bernama SMPN Mergo sebelum berganti nama menjadi SPMN Dayeuh Luhur 2. Mergosari sendiri terletak dibagian paling barat kabupaten Cilacap. Waktu itu saya nge-kost disaudara jauh nenek saya. Pak Sularno namanya. Beliau adalah Kepala sekolah SDN 1 Mergo dan menjabat sebagai ketua BP3 SMP saya. Pak Larno begitu kami panggil mempunyai 2 orang putra dan 2 orang putri, Mba Ninu salah satunya. Yang tinggal dirumah Pak Larno saat itu adalah Pak Larno, Mba Ninu dan suaminya Mang Unang dan cucunya Dian. Waktu itu saya nge-kost bertiga, saya, Kang tarja dan Carman sodara jauh saya.

Keputusan untuk nge-kost saya ambil karena jarak yang lumayan jauh antara kampung saya Cimanggeng I ke sekolah. Sekitar 10 Km jaraknya. Setiap hari sebelum masuk sekolah, saya dan siswa-siswa lainnya harus sudah bangun pukul 4:30 pagi. Walau masih sangat dingin, saya paksakan untuk mandi kemudian sholat subuh dan sarapan. Pukul 05:00 kami sudah harus berangkat ke rumah pemilik mobil satu-satunya disusun kami. Mang Tarum biasa kami sebut. Obor adalah senjata penerangan kami dalam perjalanan menuju rumah mang Tarum. Kami berjalan kaki sejauh hampir 1 kilometer. Maklum listrik PLN pada waktu itu belum masuk. Untuk mencapai rumah mang Tarum kami harus menyusuri jalan setapak dimana kanan kiri-nya pohon-pohon yang rimbun, kolam dan hanya melewati beberapa rumah penduduk saja. Hanya semangat untuk bersekolahlah yang bisa membunuh rasa takut kami dalam perjalanan didalam gelap menuju rumah mang Tarum. Pukul 5:15 mobil Suzuki Carry 1000 mang Tarum berangkat menuju seolah kami. 15 orang anak duduk di pinggir bak belakang mobil sisanya sekitar 15 orang lagi berdiri yang naik satu per satu seiring dengan perjalanan sampai Cimanggeng 2. Setelah itu mobil mang Tarum berpacu dengan waktu berlari menuju sekolah, karena pukul 6:00 mang Tarum harus mengantar para pedagang untuk belanja ke Banjar Patroman. Itulah sebabnya kami pukul 5:45 biasanya sudah sampai disekolah. Jalanan yang turun naik dan tidak beraspal baik kadang membuat mobil mogok. Kadang kami harus turun dan mendorong mobil sehingga bisa melewati Tanjakan Ki-Uda ( biasa kami sebut entah dari mana nama tanjakan tersebut ) yang 45ย  derajat kecuramannya dan menikung. Dalam satu kali perjalanan kami harus membayar Rp. 200,- ( dua ratus perak ). Biasanya saya diberi uang sama bapa saya sebesar Rp. 500,- per hari ( lima ratus perak ). Jadi saya hanya diberi uang jajan Rp. 100,- per hari. Walaupun begitu saya jarang sekali jajan. Pada jam istirahat biasanya saya habiskan untuk membaca di perpustakaan atau ngobrol dengan beberapa teman saya. Ngiri juga sih liat teman-2 makan pecel dan bakwan di warungnya Pak Odang. Tapi mau bagaimana lagi kantong kosong๐Ÿ™‚.

Pukul 1:30 siang hari akhirnya jam sekolah berakhir. Mobil mang Tarum biasanya sudah menunggu. Kembali 30-an anak naik ke mobil tersebut. Setelah mang Tarum mengecek semuanya, akhirnya mobil berjalan menuju kampung tercinta kami yang dipunggung bukit. Perjalanan pulang sekolah juga bukan perjalanan yang gampang. 2 tanjakan menanti. Tanjakan ki Parto yang super curam dan tanjakan PGRI yang panjang membuat kami harus kembali turun dan mendorong mobil. Perjalanan yang melelahkan tapi mengasikan.

Selain alasan perjalanan, penerangan juga menjadi alasan lainnya. Karena belum ada listrik PLN, penerangan dimalam hari hanya berasal dari lampu teplok atau lampu patromak kalo ada acara-acara khusus seperti kumpul-kumpul keluarga atau rapat RT. Lampu yang berbahan bakar minyak tersebut tidak seterang lampu neon-nya PLN. Sehingga kami gampang sekali mengantuk. Kalo lagi apes, misalnya lampu teplok-nya rusak, kami biasa membuat lampu dari kaleng bekas susu yang diisi minyak kemudian dikasih sumbu dari kain atau potongan handuk bekas. Besok paginya, dijamin lubang hidung hitam semua karena asap lampu minyak.

Dua hal itulah yang membuat saya memutuskan untuk nge-kost di tempat Pak Larno.

Sejak saya nge-kost ditempat Pak Larno dengan 2 sodara saya. Ritme belajar menjadi lebih baik. Pada malam hari saya bisa belajar dibawah sinar lampu listrik dari mesin diesel hasil patungan beberapa keluarga disekitar rumah pak Larno. Cuma masalahnya, mesin dieselnya ditempatkan di gudang belakang rumah milik pak Larno yang tidak ber-peredam membuat suara mesin diesel yang sangat berisik. Tapi ngga apa-2 yang penting lebih terang dari lampu teplok. Pukul 22:00 mesil diesel dimatikan. Kamipun terlelap tidur.

Pukul 04:30 saya, kang Tarja dan Carman sudah bangun. Carman yang walaupun masih kelas 2 SMP mempunyai perawakan yangย  paling besar biasanya langsung menyalakan mesin diesel Kubota dengan mengengkolnya dan itu menjadi tugasnya dipagi hari. Setelah sholat subuh, pekerjaan rumah tangga pun kami bagi-bagi dan kami jadwalkan bergantian. Ada yang mengepel rumah, mengisi bak mandi dengan menimba di sumur, dan mencuci piring. Sementara Bi Ninu masak di dapur. Oh iya. Bi atau Mba Ninu adalah PNS dan berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Banjar Patroman. Sementara Mang Unang suaminya adalah PNS yang juga menjadi guru di SMAN 2 Ciamis. Biasanya pukul 6:00 semua pekerjaan rumah sudah selesai. Lantai sudah di-pel semua, piring-piring sudah dicuci semua, dan bak mandi juga sudah diisi kembali. Waktu itulah saya gunakan untuk belajar. Sementara Mang Unang dan Bi Ninu sudah berangkat ke kantornya.

Pukul 7:00 saya bergegas menuju sekolah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Pelajaran akan dimulai pukul 7:15. Biasanya saya berangkat dengan sahabat saya Eko.

Disekolah banyak sekali cerita-cerita yang menyenangkan. Bergaul dengan banyak sekali teman dari berbagai dusun, desa dan kecamatan lain. Insya Alloh kapan-kapan saya ceritakan.๐Ÿ™‚ termasuk fans saya Daryati Marrisa Haque dari desa Madura. hehehe

Pukul 1:30 sekolahpun bubar. Setelah makan siang, sholat dan berganti pakaian kami ( saya, kang Tarja, Carman dan Eko sahabat saya ) bergegas ke kebun karet belakang kampung untuk mengembala domba. Pak Larno dan Mang Unang mempunyai 30 ekor domba. Tak lupa kami membawa buku dan papan tulis kecil untuk belajar bersama. Pukul 15:00 biasanya mang Unang datang menyusul. Satu persatu kami diberi pemantapan Matematika oleh mang Unang. Saya dan Eko diberi porsi yang lebih banyak karena sudah kelas tiga dan beberapa bilan lagi akan mengikuti ujian. Dari SD memang saya sangat suka matematika tapi tidak Trigonometri. Dari Mang Unang lah saya menjadi suka semua matematika termasuk trigonometri. Beliau dengan sabar menjelaskan logika kenapa sin 45 itu 1/2V2 ( setengah akar dua ). Beliau buatkan segitiga siku-siku dengan perbandingan sisi-2nya 1 dan sisi miringnya V2 ( akar 2 ). Pada saat belajar, biasanya kang Tarja tidur. Saking pulesnya tidak jarang dia tetap tertidur walaupun dijilat atau diinjek kambing.๐Ÿ™‚

Dari kebun karet dan menggembala dombalah kami juga bisa naik motor. Baik yang ada kuplingnya maupun motor bebek. Secara bergantian kami belajar naik motor bebek Honda 70 milik mang Unang peninggalan bapanya. Kalo urusan naik motor, Kang Tarja paling cepet lancar. Sehingga kalo belajar dia fokus dengan motor honda GL 100 yang berkopling. Sementara kami lebih senang belajar motor bebek.

Pukul 4:30 sore hari domba-domba kami masukan kandang. Setelah memberi makanan untuk nanti malam yang kami arit waktu menggembala, kamipun bergegas pulang. Setelah mandi, pukul 5:30 mesin diesel-pun kembali dinyalakan. Sambil beristirahat kami menonton TV dengan keluarga Pak Larno di ruang keluarga.

Begitulah terus menerus selama setahun. Dan Alhamdulillah selama saya di SMP saya selalu menjadi rangking 1 kecuali di Semester pertama kelas 1. Saat itu saya rangking 4.

Oh iya, saya pulang seminggu sekali. Senin berangkat dengan teman-2 dengan mobil mang Tarum dan pulang hari Sabtu dengan mobil mang Tarum juga. Selama seminggu saya dimodalin Rp. 1000,- oleh bapa saya. alhamdulillah lebih hemat.

–Sekian—

Buat anakku, Farras Rozan Athaya ” Berjuang, berusaha dan berdoalah. Insya Alloh apa yang kamu cita-citakan akan bisa kamu raih”

13 responses to “Catatan Perjuangan#SMP kelas 3

  1. Hahaha jadi inget jaman baheula… jalan kaki kalo ga ada jemputan, Mergo-Cimanggeng kira2 7 KM d tempuh kira2 2 jam perjalanan (Jalan kaki)..

    Inget tim urang cimanggeng mawa obor da sok pang isukna inditeh

  2. eng perjuangan berat tapi menyenangkan mang kadang suka pengan balik ke masa lalu masa yang sangat indah irung harideng ku damar hahahahaha

    • Hehehehe… bener Bos.
      Masih segar dalam ingatan memori waktu SMP. Kayanya baru kemarin. Jadinya kita berasa muda aja ya…๐Ÿ™‚

  3. memory yang indah, saya alumni 2005. Sedang sedikit menulis novel perihal smp mergo ini, Jika berkenan sya ingin meminta bantuan unruk riset, bertanya ini-itu, pengalaman2, dll. my phone 085223929033.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s