Daryati, Marissa Haque-ku dari desa Madura

Dari semua sekolah yang menjadi tempat belajar saya, SMP merupakan tempat sekolah yang paling menyenangkan buat saya. Walaupun dilalui dengan segala perjuangan tetapi sangat membahagiakan. Mungkin karena banyak teman-teman sekelasku yang luar biasa juga. Sahabatku Dartum, Darka, Nanto, Sumar, Yoyo, Gatot, Aris Rustini sainganku, Nur Jannah, Nur Hayati, Sri Mulyati dan Daryati yang biasa kami sebut Marissa Haque dari desa Madura adalah sahabatku yang paling berkesan. Walau teman-teman lainnya juga sangat menyenangkan buat saya.

Dari awal memang Daryati sudah menarik perhatian kami, siswa-siswa kelas 1 C. Tinggi semampai untuk ukuran siswi waktu itu, rambutnya yang hitam, kulit kuning langsat, betis mulus dan mukanya sangat mirip Marrisa Haque.πŸ™‚ Dan yang paling menarik buat saya adalah tatapan matanya. Indah banget. Kalo beradu pandang sama dia, rasanya sampe nembus jantung.πŸ™‚ Bahkan Suyanto yang menjadi Ketua Kelas dengan jelas mencoba menarik perhatiannya diawal kepemimpinannya dengan menjadikan dia bendahara kelas.πŸ™‚

Waktu itu Bu Martinah wali kelas kami ( kelas 1 C ) yang seharusnya mengajar mata pelajaran Tata Busana berhalangan hadir. Akhirnya Suyanto sang Ketua Kelas dengan badannya yang besar maju ke depan kelas dan berinisiatif untuk mengisi waktu supaya ga pada ribut. Dalam kesempatan itu dia isi dengan tebak tebakan. Kami siswa-siswa disuruh menebak kaimat yang dia gambarkan dengan simbol atau angka. Yang paling saya inget waktu itu, dia menggambar tas, angka 3 dan kata ” rut ” dibelakangnya. Kemudian siswi-siswi yang dia panggil satu-satu termasuk Marrisa HaqueπŸ™‚ berusaha menebaknya. Jawabannya adalah ” Tas ti Garut” itu adalah bahasa Sunda yang artinya Habis dari Garut. Pertama-tama lumayan juga tebak-tebakannya menarik. Tapi karena lama-lama siswa-siswa tidak diperhatikan membuat kami bosan dan akhirnya ngobrolin sepakbola di pojok belakang. Suyanto yang mungkin merasa wibawanya terancam akhirnya melemparkan penghapus dari kapuk yang berlumur kapur tulis ke muka salah satu dari kami. Ternyata yang sial adalah si Welly. Mungkin karena tidak siap, dia tidak sempat menghindar dan harus merelakan pipi kanannya berlumuran kapur tulis. Makin sebel-lah siswa-siswa kelas 1 C sama Suyanto yang lama kelamaan makin Caper ( cari perhatian ).πŸ™‚

Semester pertama pun berakhir. Memasuki semester ke-dua entah kenapa Suyanto mengundurkan diri dari sekolah. Ada yang bilang kalo dia pindah sekolah seiring dengan kepindahan rumahnya. Tapi yang jelas Daryati masih menjadi Marrisa Haque-nya kelas kami.πŸ™‚

Kelas 2, saya terpilih menjadi ketua kelas setelah dilakukan voting terbukaπŸ™‚, dengan Pak Amidi Guru Bahasa Inggis Wali kelasnya. Daryati juga terpilih menjadi bendahara kelas berdasarkan voting. Mungkin teman-teman yang lain juga menganggap dia jujur dan bertanggung jawab waktu menjadi bendahara di kelas satu dulu.

Waktu itu pelajaran Bahasa Inggris. Seperti biasa saya duduk paling depan di dekat meja guru. Sementara Daryati duduk di meja depan juga, tapi diujung yag satunya. Pak Amidi sedang menerangkan Past Continuous Tense didepan kelas. Tanpa sengaja saya melihat kearah Daryati. Ternyata dia juga sedang memperhatikan saya. Selanjutnya tatapan kami berakhir dengan senyum bahagia.πŸ™‚ karena penasaran kembali kulirik dia. Ternyata masih memperhatikan juga. Akhirnya kuberanikan untuk beradu pandang dengannya. Matanya yang indah dengan senyum menawan membuat tatapannya serasa menembus jantung membuat saya harus memalingkan muka dengan senyum lebar. ” Gila ni cewe” pikir saya dalam hati.

Hari-hari selanjutnya dia semakin menunjukan rasa sukanya sama saya. Entah kalo saya GR, yang jelas semua orang dikelas ku tau kalo dia suka saya.πŸ™‚ Karena malu saya hanya bisa tersenyum, menyimpan kekaguman dan rasa suka dalam dada.

Di akhir semester 3. Pelajaran Tata Boga akan mengadakan lomba masak sekelsa 2. ada 4 kelas waktu itu. Dalam satu kelas dibuat menjadi 5 kelompok. Dipilihlah ketua-ketua kelompoknya yang siswi-siswi. Daryati salah satunya. Aris Rustini ketua kelompok pertama memilih Nur Jannah sebagai pilihan pertamanya. Begitu juga Nur Hayati ketua kelompok kedua, memilih Sri Mulyati sebagai pilihan pertamanya. Semuanya memilih wanita yang akan dijadikan temannya dalam memasak. Tapi tidak dengan Daryati. Dia memilih saya sebagai pilihan pertamanya. Hal itu membuat suasana sangat riuh dan disambut gelak tawa juga guyonan teman-teman. Walaupun malu, tapi dalam hati saya girang.πŸ™‚ Seneng bangetΒ  menjadi pilihan-nya. Dan saya juga sangat berharap dipilihnya.πŸ™‚

Akhirnya hari dimana lomba memasakpun datang juga. Saya kebagian membawa panci dan buah-buahan. Menyenangkan sekali bisa masak bareng-bareng dengan-nya. Kami yang berenam orang saling bantu saling support untuk membuat sajian menu empat sehat lima sempurna. Kamipun keluar sebagai juara 3. Buah dari kerja keras dan kerja sama kami. Juga sedikit bumbu cintaπŸ™‚

Semester berikutnya, sekolah kami kedatangan siswa pindahan dari sekolah lain. Sesuatu yang tidak biasa di sekolah kami. Nama-nya Wawan, dengan rambut modis dan celana yang gombrang ( lagi nge-trend waktu itu ) membuat Wawan terlihat sangat percaya diri. Ditambah dukungan finansial yang baik, Wawan menjadi buah bibir siswa siswi disekolah kami. Walau berbeda kelas dengan kami ternyata Wawan dan Daryati ternyata berasal dari satu desa. Sehingga mereka terlihat sering pulang naik bis bareng-bareng. Walaupun sebentar, gosipnya Wawan dan Daryati pernah pacaran.πŸ™‚

Dari kejadian itu ada pelajaran yang sangat berharga buat saya dan juga mungkin teman-2 semua. :)a

Klo kita suka dengan seseorang, bicarakanlah ( tembaklahπŸ™‚ maka akan ada dua kemungkinan. Ditolak dan diterima. Sementara kalo tidak diomongin ( ditembak ) maka hanya akan ada satu kemungkinan. Tidak dapat apa-2.

Begitu juga dengan Usaha. Kalo anda mempunyai rencana untuk usaha, segera mulailah. Maka akan ada dua kemungkinan. Berhasil dan Gagal. Tetapi kalo anda diam saja. Maka anda akan disitu-situ aja tanpa kemungkinan lain.

Kelas 3 SMP, kembali sama satu kelas dengan Marrisa Haque-ku. Walau tidak pacaran, tetapi kami menjadi lebih dekat. Kami sering ke Perpus bareng tapi tidak ke warung…πŸ™‚ ga ada modal soalnya.πŸ™‚

Terakhir kami ketemu setelah lulus dari STM, dan dia lulus dari SMEA banjar Patroman. Masih tetap anggun dan menjadi Marrisa Haque-ku. Sayang katanya dia dijodohkan dengan guru SMPN Wanareja didekat rumahnya.πŸ™‚

—————————————————————————————————————————————————————————-

Buat sahabatku Dhino Kartika. Segera memelih BroπŸ™‚

4 responses to “Daryati, Marissa Haque-ku dari desa Madura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s